The Blog

29 Okt

Geliat maritim Pakistan dan peluang kerja sama Indonesia

Geliat maritim Pakistan dan peluang kerja sama IndonesiaDirektur The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi.

“Eksistensi Indonesia sebagai salah satu pendiri Indian Ocean Rim Association (IORA) makin disegani”

Jakarta (ANTARA) – Pakistan adalah satu negara yang bidang kemaritimannya tengah menggeliat kencang, padahal tidak banyak modal dasar kemaritiman yang dimiliki negara itu. Dari sisi jumlah pelabuhan, misalnya, Pakistan hanya memiliki dua pelabuhan, Karachi dan Gwadar. Tetapi, Pakistan bukanlah satu-satunya negara dengan modal dasar kemaritiman yang minim.

Lihatlah Singapura. Dari sisi geografis, semua orang tahu negeri ini hanyalah sebuah pulau yang tidak terlalu besar ukurannya. Jauh lebih luas Pulau Bintan yang merupakan tetangga dekat Negeri Singa itu. Kendati demikian, tidak ada yang dapat membantah bahwa Singapura adalah salah satu kekuatan utama kemaritiman dunia saat ini.

Menyamakan Pakistan dengan Singapura jelas gegabah. Saat ini jarak kekuatan ekonomi maritim di antara keduanya terlalu lebar. Namun, melihat geliat maritim negara yang didirikan oleh Ali Jinnah itu belakangan ini sepertinya jarak yang menganga tadi bisa dipersempit dalam kurun lima atau sepuluh tahun ke depan.

Kok, bisa? Tentu saja bisa. Dan, yang menjadi kuda tunggangan untuk mengejar ketertinggalan tersebut adalah sebuah koridor yang diberi nama China-Pakistan Economic Corridor (CPEC).

CPEC merupakan kerjasama antara China dan Pakistan dalam skema Belt and Road Initiative (BRI) dan barangkali merupakan kerjasama terpenting di bawah payung program besutan Presiden Xi Jinping itu.

Disebut terpenting karena China betul-betul diuntungkan dengan adanya koridor ini dan karenanya rela mengucurkan investasi besar. Per 2017 jumlahnya telah mencapai 62 miliar dolar AS dan nilai ini akan terus bertambah seiring dengan dibangunnya berbagai infrastruktur, kawasan ekonomi khusus dan lain sebagainya.

Pakistan jelas mendulang untung pula dari program yang dulunya bernama One Belt One Road atau OBOR tersebut. Investasi China membuat perekonomiannya yang selama ini lesu kembali berdenyut kencang. Namun, tetap saja Negeri Tirai Bambu beroleh lebih banyak manfaat dari keberadaan CPEC.

Betapa tidak. Dengan bermitra dengan Pakistan, China memiliki jalan bebas hambatan (baca: koridor) untuk berbagai produk yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik yang mereka dirikan di bagian barat negeri, tepatnya Daerah Otonomi Khusus Xinjian. Pabrik-pabrik itu ada yang merupakan cabang maupun unit baru dari korporasi China yang ada di bagian lain negeri itu

Koridor ekonomi China-Pakistan merentang sepanjang 1.000 km dari Xinjiang hingga ke pelabuhan Karachi dan Gwadar yang berada di tepian Laut Arab. Investasi yang dikucurkan oleh China melalui skema BRI dipergunakan untuk membangun dan meremajakan jaringan jalan raya dan rel kereta api di atas bentangan tersebut.

Tidak ketinggalan, pembangkit listrik/energi serta kawasan ekonomi khusus juga ditumbuhkan di sana. Dari pelabuhan itulah, khususnya Gwadar, produk China dikapalkan ke Afrika dan Asia Barat. Layanan ini sudah beroperasi sejak 2016.

Jika komoditas yang dihasilkan oleh industri yang tersebar di Xinjian tadi dikirim melalui pelabuhan lain, pelabuhan Shanghai umpamanya, jelas tidak efisien dan pastinya mahal. Itulah mengapa China disebut lebih diuntungkan oleh keberadaan koridor tersebut.

Dengan biaya pengapalan yang murah (karena didukung oleh transportasi multimoda yang andal), produk China pada gilirannya dapat dijual dengan harga murah di end destination. Transportasi yang murah memang menjadi salah satu competitive advantage barang-barang made in China di pasar global.

Pelabuhan Gwadar adalah jantung dari geliat kemaritiman Pakistan. Terletak di Provinsi Balochistan. Kedalamannya alami, dikenal dengan istilah deep sea port dalam khazanah kemaritiman, sehingga biaya pengerukan (dredging) bisa diminimalisasi.

Investasi pun karenanya bisa lebih dipertajam untuk melengkapi peralatan bongkar muat. Potensinya sebagai pelabuhan sudah diketahui sejak 1954, namun baru bisa dikembangkan pada 2007 semasa pemerintahan Presiden Parvez Musharraf. Tapi kapasitasnya terbatas sekali.

Pada 2015 China berniat mengembangkan pelabuhan Gwadar sebagai bagian dari CPEC. Di pelabuhan inilah bertemu dua elemen kebijakan Xi Jinping, belt and road. Gwadar merupakan elemen road yang dalam rencana besar Xi ditumpukan di atas Jalur Sutera. Hanya saja, di zaman modern ini sang presiden ingin perjalanan di atas jalan kuno itu dilakukan melalui laut. Dari sinilah muncul istilah Maritime Silk Route (MSR).

Sejarah mencatat Jalur Sutera berperan menghubungkan China, Asia Selatan, Anak Benua India, Semenanjung Arab, Somalia, Mesir, dan Eropa. Sementara belt mengacu kepada infrastruktur darat, jaringan jalan dan rel kereta api. Dalam CPEC wujudnya adalah bentangan sepanjang 1.000 km seperti yang penulis sebut di muka.

Menyaksikan apa yang tengah berlangsung di Gwadar, dapat diramalkan bahwa pelabuhan itu akan menjadi hub baru di kawasan Asia; dan ia akan menjadi poros maritim. Kini Pakistan mencoba menawarkan konektivitas yang mereka miliki, yakni darat, kereta api serta pelabuhan ke berbagai penjuru mata angina, kepada berbagai negara, termasuk Indonesia.

Terus, bagaimana dengan China? Tidak masalah. Investasi yang dibenamkan oleh Negeri Panda itu bersifat komersial. Artinya, sejauh apa yang mereka tanam dapat membuahkan hasil finansial, kebijakan Pakistan menawarkan fasilitas yang dibangun kepada negara lain selain China sah-sah saja adanya.

Indonesia tinggal menghitung peluang yang terbuka dari keberadaan China-Pakistan Economic Corridor (CPEC). Apakah lebih murah atau lebih mahal dari simpul-simpul konektivitas yang selama ini digunakan untuk kegiatan ekspor maupun impor nasional.

Satu yang segera jelas, dari sisi politik, pemanfaatan Pelabuhan Gwadar akan meningkatkan profil pelayaran nasional yang melayari Samudra India dari pelabuhan, misalnya, Teluk Bayur di Sumatera Barat. Rute itu selama ini hampir tak tersentuh.

Pada gilirannya, layanan pelayaran oleh armada Merah Putih itu akan menjadi magnet yang menarik negara-negara yang terhubung dengan samudra tersebut untuk menggunakannya dalam shipment komoditas mereka ke mancanegara. Dan, eksistensi Indonesia sebagai salah satu pendiri Indian Ocean Rim Association (IORA) makin disegani. Tapi, perlu dicatat, Pakistan bukan anggota IORA.

Last but not least, kerjasama bilateral antara Pakistan dan Indonesia masih perlu ditingkatkan yang salah satunya adalah dengan memanfaatkan potensi kemaritiman kedua negara. Jalan untuk itu sudah dibangun dengan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Pakistan tahun lalu.

Mumpung masih baru, barangkali ada baiknya kabinet mengagendakan kunjungan Perdana Menteri (PM) Pakistan Imran Khan ke Indonesia untuk mempertajam hubungan maritim yang ada. Entahlah.