Budaya Keselamatan Lemah, Ini Ancaman Nyata Sektor Pelayaran Indonesia

Budaya Keselamatan Lemah, Ini Ancaman Nyata Sektor Pelayaran Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA — Potensi kecelakaan kapal di laut Indonesia diperkirakan akan tetap meningkat, kendati Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) terus berusaha meningkatkan kualitas keselamatan dan keamanan pelayaran.

Pakar kemaritiman dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Raja Oloan Saut Gurning mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena lemahnya budaya keselamatan di masyarakat. Saat ini, budaya keselamatan pelayaran, baik oleh operator kapal, perusahaan pemilik kapal, masyarakat, pemilik barang hingga pemerintah pusat dan daerah masih kurang baik.

Saut menyontohkan dua kebakaran kapal secara beruntun yakni Kapal Motor (KM) Santika Nusatara dan KM Izhar belum lama ini memberikan indikasi masih lemahnya perhatian semua pihak terhadap pencegahan serta manajemen kebakaran di atas kapal.   

Kebakaran KM Santika Nusantara rute Surabaya – Balikpapan pada Kamis ( 22/8/2019 ) di Perairan Laut Utara Pulau Masalembo Jawa Timur menyebabkan 3 orang meninggal dunia. Sebelumnya, korban tewas akibat terbakarnya KM Izhar, diperairan Bokori, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Jumat (16/8/2019) menewaskan10 orang.

Bila hal ini tidak ditangani secara intensif, dia menilai hal tersebut akan semakin meningkatkan peluang terjadinya kecelakaan di laut.

“Insiden akan dominan terjadi pada kelompok kapal kecil yang sifatnya nonkonvensi. Khususnya untuk kluster kapal kecil, utamanya untuk penumpang dan penyeberangan,” tuturnya kepada Bisnis.com, Rabu (9/10/2019).

Dia menegaskan potensi kecelakaan tersebut justru kerap terjadi di sekitar pelabuhan. Hal itu, imbuhnya, bukan akibat dari proses berlayar tetapi saat kapal hendak berlayar seperti memasuki pelabuhan atau saat kapal berada di pelabuhan.

Selain itu, menurutnya, potensi insiden juga bisa disebabkan oleh kebakaran dan tabrakan kapal yang kemudian tenggelam (capsizing) akibat ketidakstabilan kapal.

Secara umum, kejadian kecelakaan di atas kapal akibat tidak didukung oleh kehadiran kultur atau sistem keselamatan di sebuah kapal. 

Dia menuturkan, penyebab terjadinya kebakaran kapal diakibatkan adanya zat panas ke permukaan baik interaksi dari peralatan panas di dek kapal, atau dari sumber api.

Kemudian, adanya peralatan listrik kapal yang memiliki  beban lebih atau peralatan listrik yang rentan termasuk kabel yang tidak memenuhi persyaratan listrik kapal, percikan api dari mesin penggerak akibat temperatur dan beban operasi berlebihan termasuk over speed, serta kurangnya perawatan pemesinan kapal.

Jadi, paparnya, penguatan SDM khususnya bagi para staf di lingkungan Ditjen Hubla merupakan upaya baik guna memperkuat aspek pengawasan, monitoring serta penanganan yang lebih cepat, responsif dan inovatif.

“Saya pikir apa yang mulai dilakukan pihak KPLP merupakan usaha baik guna memperkuat akar masalah berbagai insiden keselamatan dan keamanan pelayaran yaitu kesalahan atau kelalaian manusia (human-error),” katanya.

Saut menilai usaha pemerintah sudah cukup baik, tetapi usaha membangun budaya keselamatan memang tidak mudah. Perlu dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang guna menggugah kesadaran, kepedulian dan kedisiplinan masyarakat.

“Jadi menurut saya yang paling segera dan urgent dilakukan adalah budaya keselamatan tidak hanya bagi operator, namun juga pengguna termasuk juga regulator keselamatan pelayaran kita,” ujarnya.

Source : bisnis.com